Sabtu, 24 Mei 2014

Let it Go


Lagu Tulus yang berjudul Sepatu menemani saya malam ini yang sedang menatap jalanan yang tidak ada matinya bahkan sampai saat angin malam membuat saya harus memeluk lutut untuk menghangatkan badan. Pukul 11 malam, saya memilih duduk melantai di balkon rumah ditemani blackberry yang memecah kesunyian malam ini dengan lagu-lagu lembut dari penyanyi-penyanyi yang saya suka.

Entah kenapa suasana yang sebenarnya sunyi seperti ini membuat saya sulit untuk tertidur, saya masih senang duduk di sini meskipun nyamuk-nyamuk sudah mulai menggingit menyuruh saya segera masuk ke kamar dan mulai tidur sekarang. Hingga akhirnya telepon genggam yang saya biarkan melantunkan lagu-lagu klasik tadi berhenti sejenak, suara notifikasi sms terdengar, dan layar benda berwarna hitam itu menunjukkan sebuah pesan singkat baru saja masuk.

Saya menggapainya dan membaca sms itu, 

'Hai. Besok aku balik ke Bandung, ketemuan ya'

Saya sedikit kaget ketika pesan itu ternyata dikirim oleh Dwian, laki-laki yang satu bulan terakhir ini membuat saya cemas memikirkan dia. Entah mimpi apa saya semalam sehingga orang yang saya pikir tidak akan mencari kehadiran saya lagi, kini datang. Kini ia kembali membuat saya tersenyum.

===

Saya duduk di sebuah meja khusus dua orang. Beberapa kali saya mengintip jam tangan hijau muda yang terikat di tangan kiri saya, beberapa kali pula saya mengecek hp menunggu kabar sosok yang sudah mengajak saya untuk ketemuan di sini minggu lalu, tapi jawabannya tetap nihil.

Untung saja meja yang saya pilih kali ini bisa membuat saya betah duduk lama, jendela besar yang dapat mengantar pandangan saya ke arah jalanan besar yang sudah mulai basah diguyur hujan rintik, orang-orang di sekitarnya pun bersamaan mengeluarkan segala sesuatu yang dapat menutup kepalanya sambil berlari-lari kecil menuju tempat teduh.

Saya menguap, rasa bosan menunggu akhirnya muncul juga, saya mulai mengernyitkan dahi. Rasa kecewa sedikit demi sedikit muncul, rasanya ingin pulang sekarang, sepertinya rencana saya untuk membicarakan hubungan kami berdua hari ini harus ditunda atau bahkan tidak akan terjadi sama sekali sampai kapanpun. Jarak Bandung dan Melbourne yang tidak dekat membuat saya dan Dwian harus mengambil keputusan untuk berpisah, bukan karena kita tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh, tapi karena masalah-masalah sepele yang sulit untuk kami selesaikan tanpa tatap muka.

Saya kembali menarik napas panjang, mencoba tetap sabar menunggu. Jangan sampai ego kali ini membuat saya akan menyesal nantinya.

Mata saya tertuju ke sosok laki-laki tinggi yang mengenakan kemeja merah di pintu masuk tempat makan itu, ia sedang menepuk-nepuk pundaknya untuk membersihkan butiran-butiran air hujan yang tertinggal di sana, ia juga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena basah.

Matanya pun seperti mencari seseorang, hingga akhirnya ia melihat saya yang duduk sendirian, kemudian ia melambaikan tangan dan tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi.

"Udah lama nunggu?" tanyanya sambil menarik kursi tepat di hadapan saya.

Saya tersenyum, saya hanya tidak mau mengatakan 'tidak' ketika tadi saya nyaris pulang karena sudah terlalu lama menunggunya datang.

"Sorry, tadi habis antar mama ke Ciwalk." lanjutnya seakan mengerti apa yang ingin saya katakan.

Sore itu akhirnya saya bisa melihat dia lagi terhitung 6 bulan yang lalu. Ia masih seperti yang dulu, masih bisa membuat saya nyaman mendengar cerita-cerita hidupnya selama ia kuliah di negara orang, ia masih bisa membuat saya tertawa ketika ia menceritakan hal-hal lucunya. Rindu yang saya pendam selama 6 bulan itu pula akhirnya terbalas sekarang, saya duduk di depannya, saya melihat kedua bola matanya, saya pikir hal itu tidak akan terulang ketika pertengkaran hebat sebulan yang lalu terjadi.

Lampu jalanan menyala, cuaca mendung ditambah lagi langit yang perlahan ditinggal matahari membuat hari ini lebih gelap, saya memilih pulang.
"Aku antar ya?" tawarnya. Saya menolak, meskipun 3 jam duduk berdua hari ini tapi entah kenapa saya masih merasa canggung kalau harus ikut dengannya pulang kali ini. Lagi pula, saya juga tidak boleh merepotkan dia.

"Ikut aja, udah maghrib. Kalau kamu naik angkot, pulangnya bisa lama, mending naik motor bareng aku aja." hati saya tidak bisa menolak, di sisi lain saya rindu menelusuri jalanan-jalanan Bandung dengan motor besarnya, saya hanya ingin mengulang momen-momen seperti dulu. Saya mengangguk setuju.

Ia masih Dwian yang dulu, Dwian yang suka mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, masih dengan motor ninja hitam dan jaket kulit hitam favoritnya yang ia pinjamkan ke saya malam ini, katanya takut saya kedinginan. Saya serasa melayang, "fly diam-diam itu asik" kata saya dalam hati.

Entah apa yang saya pikirkan selama 15 menit perjalanan, tiba-tiba saja saya tersadar ketika Dwian memberhentikan motornya tepat di depan rumah saya. Saya berusaha turun dengan memegang punggung Dwian, melepaskan jaket kulitnya, dan berterima kasih malam ini sudah mengantar saya pulang. "Makasih ya udah antar pulang." kata saya sambil tersenyum.

"Iya, makasih juga udah mau nemenin makan hari ini" balasnya juga dengan senyuman khasnya.

Saya mengangguk, kemudian berbalik meninggalkan Dwian dan berjalan menuju pintu rumah. Namun langkah saya tiba-tiba berhenti ketika Dwian memanggil nama saya. "Audrey"

Saya berbalik kembali ke arah Dwian, "ya?"

"Mmm besok aku mau jalan-jalan lagi, temenin ya"

Sontak saya kaget, merasa tidak percaya dengan ajakan Dwian kali ini. Tanpa pikir panjang saya mengangguk yakin.

=== 
Tidak terasa, liburan Dwian selama 2 minggu di Bandung harus berakhir hari ini, sore ini ia sudah harus ke bandara dan kembali ke Melbourne. Hari ini saya dan Dwian duduk di sebuah bangku panjang dengan es krim di tangan kami masing-masing. Selama 2 minggu ini saya cukup senang dengan kepulangan Dwian yang ternyata 4 kali mengajak saya jalan, saya sudah berpikir dan berharap terlalu jauh, niat saya yang ingin memperjelas hubungan kami berdua saya lupakan, saya terlena, saya terbang terlalu tinggi karena sikap Dwian selama 2 minggu ini. Hingga akhirnya Dwian-lah yang memperjelas semuanya.
"Audrey.." katanya pelan.
Merasa ada hal penting yang ingin diucapkan Dwian, saya menatap Dwian tanpa memalingkan pandangan saya sekali pun.

Dwian menatap saya yang menunggunya berbicara. Ia menarik nafas panjang dan melepaskan pandangannya dari saya. "Udah sebulan kita putus.."

Jantung saya berdebar kencang, saya tidak bisa menebak apa yang akan dikatakan Dwian selanjutnya, tapi hati saya berharap dia akan mengakui kesalahannya dan meminta saya kembali menjalani hubungan kita seperti dulu; seperti keinginan saya selama ini.

"Aku tau, untuk kita berdua pasti akan susah melupakan satu sama lain, secara kita pacaran udah mau setahun. Pasti susah." lanjutnya.

Saya masih terdiam, namun saya berhenti menatapnya dengan tatapan berharap.

"Kita udah nggak bisa balikan." katanya kemudian, ia kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Sepertinya ia sudah tau apa yang ingin saya katakan, ia sudah tau kalau saya mau kembali.

Bibir saya bergetar, mata saya rasanya sudah panas, saya tidak mau bicara untuk kali ini, saya takut air mata saya jatuh tidak bisa saya kendalikan. Saya bertanya pada diri sendiri, "Dari mana dia tau kalau saya mau balikan?"

Sesaat terjadi keheningan di antara kita berdua. Hingga akhirnya Dwian kembali berbicara "Aku tau dari temen-temen kamu, dari tweet-tweet kamu juga sih" katanya sambil sedikit tersenyum, rasanya konyol, curhatan-curhatan yang kadang saya tulis di media sosial memang tidak bisa dijaga kerahasiaannya.

Tatapan kami berdua kali ini bertemu, saya tersenyum pertanda saya mengerti dan memahami apa yang diinginkan Dwian saat ini. 

Dwian pun tersenyum meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, "aku sayang sama kamu, Audrey. Cuma kita udah nggak bisa sama-sama lagi, aku nggak bisa nyakitin kamu cuma karena hal-hal sepele yang nggak bisa kita selesaikan."

Kali ini saya yakin mata saya berkaca-kaca, saya berusaha untuk terlihat tegar di hadapan laki-laki yang saya sayangi ini. Selama ini saya pikir Dwian memiliki tujuan yang sama dengan saya, ternyata saya salah besar. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan air mata yang bersembunyi, namun tidak untuk saat ini; saat Dwian tepat duduk di samping kanan saya. Rasanya saya butuh pundak untuk menangis, pundak yang membuat saya nyaman untuk mengeluarkan air mata, pundak yang bisa saya pukul untuk mengeluarkan amarah saya, tapi tidak untuk saat ini; karena pundak itu hanya milik Dwian.

Terkadang, apa yang disayangi harus direlakan pergi, sekalipun dengan alasan "sayang" ia meninggalkan, meskipun alasan "sayang" itu hanya pemanis kata-kata perpisahan, tapi saya berusaha menerima, karena saya yakin ketika sebuah hubungan hanya diperjuangkan oleh satu orang, maka hubungan itu tidak bisa dipertahankan. Kini Dwian menyerah, saya tidak bisa memaksa dia untuk berjuang bersama saya. Saya juga menyerah.
Saya merelakan dia pergi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Cerita Gado-Gado Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template