![]() |
| sumber gambar : http://inicecritaku.blogspot.com/ |
Di tempat ini saya sering menghabiskan waktu kosong, duduk di kursi tunggu apa adanya ini. Saat ini mata saya sedang melihat beberapa orang pengobral boneka-boneka lucu dipinggir jalan yang dijual murah, mereka sedang sibuk merapikan bonekanya ke dalam mobil box agar tidak terguyur hujan.
Pikiran saya tentang boneka-boneka itupun terhenti ketika saya sedikit kaget saat seorang pria parubaya duduk di samping saya sambil mengelap wajahnya dengan sapu tangan berwarna biru.
"Numpang duduk, neng." izin pria ini sambil tersenyum. Ternyata pria ini seorang kuli bangunan sebelah klinik tempat saya bekerja.
Saya membalas senyumannya, dan kembali melihat boneka-boneka tadi.
"Lucu-lucu ya bonekanya. Itu dijual, neng?" tanya pria itu seakan ia tahu apa yang saya pikirkan.
"Iya, pak." jawab saya.
"Wah, boneka cantik kok dijual di pinggir jalan, kan sayang.." lanjutnya.
Saya tersenyum, "boneka-boneka itu diobral pak, biasanya sih kalau boneka yang dijual di pinggir jalan itu boneka yang cacat dari pabrik, pak. Yang nggak layak di jual di toko-toko besar." kata saya menjelaskan tentang benda-benda lucu itu.
"Oalah, padahal boneka-bonekanya mah masih cantik" kata bapak ini dengan dialeg sundanya yang khas.
Perbincangan saya dengan pria berbaju lusuh itu terus berlanjut tentang boneka obralan tadi, sampai akhirnya datang seorang wanita dengan anak laki-lakinya yang menggunakan jaket tebal ke klinik ini. Saya pun meninggalkan pria tadi duduk sendirian untuk melayani wanita dan anaknya itu.
"Wah, boneka cantik kok dijual di pinggir jalan, kan sayang.." lanjutnya.
Saya tersenyum, "boneka-boneka itu diobral pak, biasanya sih kalau boneka yang dijual di pinggir jalan itu boneka yang cacat dari pabrik, pak. Yang nggak layak di jual di toko-toko besar." kata saya menjelaskan tentang benda-benda lucu itu.
"Oalah, padahal boneka-bonekanya mah masih cantik" kata bapak ini dengan dialeg sundanya yang khas.
Perbincangan saya dengan pria berbaju lusuh itu terus berlanjut tentang boneka obralan tadi, sampai akhirnya datang seorang wanita dengan anak laki-lakinya yang menggunakan jaket tebal ke klinik ini. Saya pun meninggalkan pria tadi duduk sendirian untuk melayani wanita dan anaknya itu.
===
Sama seperti hari-hari biasanya ketika klinik ini tidak dikunjungi calon-calon pasien di pinggiran kota, saya duduk di kursi tunggu sambil melihat kendaraan yang lalu lalang di depan saya.
Satu bulan yang lalu, setiap jam makan siang saya duduk di sini ditemani beberapa pekerja bangunan di sebelah klinik yang ternyata sekarang sudah menjadi mini market. Sekarang saya rindu dengan candaan mereka—ayah-ayah yang giat mencari nafkah, dan ibu-ibu yang banting tulang demi membantu perekonomian keluarganya.
Entah kenapa saya kepikiran dengan pria parubaya yang pernah mengajak saya mengobrol panjang tentang boneka-boneka obral di pinggir jalan dan anak perempuannya yang katanya dalam waktu dekat ini ulang tahun, saya kemudian menujukan pandangan saya ke arah mobil box yang sejak sebulan terakhir menjual bonekanya di pinggir jalan di depan klinik.
Tidak lama kemudian—saya rasa saya tidak bermimpi, apa yang saya pikirkan sekarang ada di hadapan saya—seorang pria menghentikan motor tuanya tepat di depan mobil penjual boneka itu. Seorang wanita dan seorang anak perempuan sekitar 7 tahun turun dari motor, anak perempuan itu tampak senang, tangan kanannya menarik tangan ibunya sedangkan tangan kirinya menunjuk salah satu boneka beruang biru yang ukurannya tidak terlalu besar.
Pria itu kuli bangunan yang pernah saya temui, ia pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk menyisihkan gajinya dan membeli salah satu boneka obralan di depan sana. Dan hari ini ayah yang hebat itu membuktikannya.
"Mau yang mana, neng?" kata pria itu samar-samar saya dengar.
Saya tidak mendengar apa yang dikatakan anaknya, saya hanya melihat anak perempuan yang cantik itu menunjuk boneka yang tadi; boneka yang ia tunjukkan ke ibunya.
Beberapa kali pria itu menegosiasikan harga untuk boneka tadi, hingga akhirnya—meskipun saya tidak mendengar jelas apa yang dikatakan si penjual boneka dan pria tadi—pria parubaya itu membeli boneka itu.
"Seneng nggak, neng?" tanyanya lagi sambil berjalan menuju motor yang ia parkir.
Anaknya hanya mengangguk dan tersenyum sambil memeluk erat boneka sederhana itu. Pria itu kemudian menyalakan motor tuanya. Sebelum ia pergi dari tempat itu, ia sempat melihat ke arah klinik dan mendapati saya yang tengah duduk tenang di sini, ia tersenyum lebar ke arah saya, seakan ingin berkata "mbak, saya sudah membelikan anak saya boneka, saya sudah menepati janji saya."
Saya membalas dengan senyuman pula. Saya terharu melihat perjuangan salah satu ayah hebat ini. Sesederhana bagaimana pun pekerjaannya, ia tetap berusaha membahagiakan tempat pulangnya; keluarga.
Satu bulan yang lalu, setiap jam makan siang saya duduk di sini ditemani beberapa pekerja bangunan di sebelah klinik yang ternyata sekarang sudah menjadi mini market. Sekarang saya rindu dengan candaan mereka—ayah-ayah yang giat mencari nafkah, dan ibu-ibu yang banting tulang demi membantu perekonomian keluarganya.
Entah kenapa saya kepikiran dengan pria parubaya yang pernah mengajak saya mengobrol panjang tentang boneka-boneka obral di pinggir jalan dan anak perempuannya yang katanya dalam waktu dekat ini ulang tahun, saya kemudian menujukan pandangan saya ke arah mobil box yang sejak sebulan terakhir menjual bonekanya di pinggir jalan di depan klinik.
Tidak lama kemudian—saya rasa saya tidak bermimpi, apa yang saya pikirkan sekarang ada di hadapan saya—seorang pria menghentikan motor tuanya tepat di depan mobil penjual boneka itu. Seorang wanita dan seorang anak perempuan sekitar 7 tahun turun dari motor, anak perempuan itu tampak senang, tangan kanannya menarik tangan ibunya sedangkan tangan kirinya menunjuk salah satu boneka beruang biru yang ukurannya tidak terlalu besar.
Pria itu kuli bangunan yang pernah saya temui, ia pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk menyisihkan gajinya dan membeli salah satu boneka obralan di depan sana. Dan hari ini ayah yang hebat itu membuktikannya.
"Mau yang mana, neng?" kata pria itu samar-samar saya dengar.
Saya tidak mendengar apa yang dikatakan anaknya, saya hanya melihat anak perempuan yang cantik itu menunjuk boneka yang tadi; boneka yang ia tunjukkan ke ibunya.
Beberapa kali pria itu menegosiasikan harga untuk boneka tadi, hingga akhirnya—meskipun saya tidak mendengar jelas apa yang dikatakan si penjual boneka dan pria tadi—pria parubaya itu membeli boneka itu.
"Seneng nggak, neng?" tanyanya lagi sambil berjalan menuju motor yang ia parkir.
Anaknya hanya mengangguk dan tersenyum sambil memeluk erat boneka sederhana itu. Pria itu kemudian menyalakan motor tuanya. Sebelum ia pergi dari tempat itu, ia sempat melihat ke arah klinik dan mendapati saya yang tengah duduk tenang di sini, ia tersenyum lebar ke arah saya, seakan ingin berkata "mbak, saya sudah membelikan anak saya boneka, saya sudah menepati janji saya."
Saya membalas dengan senyuman pula. Saya terharu melihat perjuangan salah satu ayah hebat ini. Sesederhana bagaimana pun pekerjaannya, ia tetap berusaha membahagiakan tempat pulangnya; keluarga.

0 komentar:
Posting Komentar