Sekarang gue lagi menatap buku matematika yang sejak keluar dari tas
gue jumat kemarin dan sampai hari ini masih stay di meja samping tempat tidur
saking nggak terurusnya. Entah apa yang harus gue lakukan supaya sin, cos, tan,
cot, cosec, alfa, beta, trigonometri, sinus, cosinus, and the gank ini bisa
ngerti perasaan gue yang sampai sekarang masih agak lingu sama pelajaran ini.
Udah 12 tahun gue
sekolah terhitung sejak TK sampai kelas 2 SMK sekarang. Dan bermacam-macam guru
gue udah hadapi. Mungkin beberapa orang guru selalu ngeluh terhadap perilaku
muridnya, tapi murid juga kadang ada keluhan loh tentang gurunya. Gue itu
paling suka sama guru yang suaranya lantang dan gak bikin ngantuk, minimal punya
semangat untuk ngajar yang bisa ditularkan ke muridnya untuk semangat belajar.
Gue juga suka sama guru yang punya wawasan luas, dimana dalam kelas kita bukan
cuma bahas materi yang ada di buku, tapi semua ilmu pengetahuan umum yang
berkaitan dengan materinya. Guru yang bisa memposisikan dirinya sebagai murid,
gue gak suka kalau ada guru yang selalu menyalahkan muridnya bahkan karena
kesalahan guru itu sendiri, dan guru favorit adalah guru yang suka minta kritik dan saran dari
murid. Tapi yang paling penting dan utama itu, metode mengajar guru, dimana
guru yang baik pasti cara mengajarnya juga baik dan menghasilkan pemahaman yang
baik bagi muridnya.
Mungkin guru TK
adalah guru ter-the best-lah. Gue cuma disuruh menghitung 1-100, disuruh
membaca, menulis kata-kata sederhana, mewarnai, menggambar, makan bekal bareng,
main ayunan, main boneka-boneka unyil, dan berbagai hal-hal indah lainnya. Beda
sama sekarang, gue dituntunt untuk ahli dalam semua mata pelajaran, ulangan 3
kali seminggu, pr bernomor-nomor, menulis berlembar-lembar, dan hal-hal yang
menyenangkan tapi memelalahkan lainnya.
