Aku menghampirimu dengan beberapa lembar kertas yang kupegang di tangan kananku. Lembaran-lemaran berisi rangkaian kalimat yang sengaja kubuat semalaman, lembaran-lembaran tentang keajaiban cinta yang kutulis dalam beberapa bait. Kau tersenyum ketika aku sengaja melambaikan kertas-kertas itu ke arahmu yang duduk di bawah pohon besar. Belum sempat duduk, kau langsung meminta kertas yang kupegang. Karena ini sengaja kubawakan untukmu, aku langsung menyodorkannya sambil melihat mata cokelatmu yang berbinar-binar tampak senang bisa membaca karya sastraku lagi.
"Wah, Bel udah lama lo gak nulis kayak gini lagi" katamu sesaat sebelum kau terfokus membaca puisi yang kubuat tentang perjalanan perempuan yang memendam perasaannya, mencintai dalam keheningan, dan merasakan sakit sendirian, itu semua dia lakukan karena ia rasa tak pantas jika ia mencintai sahabatnya sendiri.
Aku tersenyum tanpa melepas pandanganku darimu. Sampai akhirnya beberapa lembar karyaku siang itu selesai kau baca. Lalu dengan tanganmu yang kokoh kau mengeluarkan kamera hitam yang selalu kau bawa kemana-kemana. Benda itu kau arahkan ke wajahku, aku yang tidak suka dengan kamera langsung memalingkan wajah. Kau tertawa kecil melihat hasil bidikanmu, sedangkan aku diam sambil mengerutkan dahi. "Yaelah Abel, gue cuma ngetes aja kali" katamu sambil sibuk dengan single-lens reflex cameramu itu.
Aku sedikit marah, sempat tidak ada hal yang kita bicarakan, dan kau tersenyum sambil memegang tanganku. "yaudah, maafin gue deh. Besok gue pengen hunting, lo ikut ya." Aku masih belum menangkap tawaranmu, fikiranku masih melayang dan jantungku masih berdebar sangat kencang keika kau memberikan kenyamanan dan mengutarakan rasa maafmu dengan suara yang khas. "Gimana? Mau nggak?" kau mengulangi pertanyaanmu. Dan aku baru merasa benar-benar fokus saat kau melepas genggaman tanganmu di sela-sela jariku.
Aku mengangguk setuju. Hal yang paling kusukai dari hobi fotografimu adalah ketika kau mengajakku ke tempat-tempat baru, tempat yang indah, dimana aku bisa duduk santai di sana sambil menuliskan kata-kata yang kurangkai kembali menjadi karya sastra yang baru, aku senang mengunjungi tempat yang memberikan banyak inspirasi . Aku senang hunting, aku senang bersamamu, sahabat.
Kau mengantarku ke tempat yang
benar-benar indah. Ada pohon besar, ada danau di depannya, ada kicauan burung,
ada sinar matahari pagi, dan ada kau dan aku di sini. Aku berjalan menuju pohon
besar dekat danau, aku duduk di sana menghirup udara sejuk pagi itu. Kau yang
baru saja selesai memarkir kendaraan roda duamu berlari-lari kecil ke arahku
sambil tersenyum, senyuman yang selalu membuatku jatuh cinta untuk kesekian
kalinya. “Tempatnya enak gak?” katamu sambil
duduk di sampingku, kau sangat dekat sehingga aku bisa mendengar desahan
nafasmu yang belum normal. “Lo capek banget ya? Sampai
ngos-ngosan gitu. Makanya parkir motor jangan kejauhan haha” aku menyodorkan
sebotol air mineral yang sengaja kubawa dari rumah. “Tempatnya enak banget, lo
emang hebat deh kalau cari tempat hunting” Seulas senyum manis kembali keluar
dari bibirmu, “iya dong. Gue emang hebat, gue juga hebat cari tempat di hati lo
hahaha.” Aku tertawa sembari memukul lenganmu. Aku tahu itu hanya lelucon, tapi
tanpa kau ketahui bahwa kau memang benar-benar sudah mendapatkan tempat tepat
di hatiku saat ini. Kau berjalan ke arah danau dan
meninggalkanku yang sudah mulai menuangkan ide dan kreativitasku di atas kertas
putih itu. Sesekali aku menatapmu yang asik membidik keindahan alam yang Tuhan
ciptakan untuk manusia ini. Sepanjang hari kita banyak
mengobrol, mulai dari hal yang penting hingga hal yang menurutku kurang
penting, tidak pernah kau kehabisan bahan pembicaraan sehingga aku sangat
nyaman ketika kita ngobrol atau bertukar pikiran. Matahari sudah mulai bersembunyi,
kini langit sudah mulai berwarna senja, kau mengajakku untuk pulang tapi aku
masih suka untuk duduk santai di bawah pohon ini. Aku menatap wajahmu yang
kelihatan kelelahan setelah berjam-jam berkeliling di sini membidik benda-benda
biasa namun kau jadikan menjadi gambar yang indah, kau perlahan menyandarkan
kepalamu di bahuku. Aku menoleh ke sahabat baikku ini, bertanya tentang
keadaanya dan terrnyata ia mengeluh hanya sedikit mengantuk. Aku menyuruhnya
untuk tidur di bahuku, tapi ia menolak. “Gue gak bisa tidur. Kalau ada yang
macem-macem sama lo pas gue lagi tidur gimana? Gue kan orangnya susah
dibangunin”. Kau berhasil membuatku tertawa
kecil, pikiranmu mungkin terlalu jauh tapi itu sangat logis. Kau menampakkan
perhatian yang sangat besar dan rasa sayang yang aku yakini bahwa rasa itu
benar-benar muncul dari naluri seorang sahabat. Seketika ada keheningan yang terjadi
di antara kita, entah kemana pikiran kita masing-masing. Beberapa saat
kemudian, kau memecahkan keheningan itu, “thanks ya Bel”. Aku masih bingung
dengan ucapan terima kasihmu kali ini. “Kenapa emangnya?” Kau bangun dari sandaranmu,
membalikkan badan ke arahku, dan menatap mataku. Wajahmu tampak sangat serius,
aku sedikit gugup dengan tatapanmu kali ini. “Lo udah buat gue move on dari
mantan gue hehe” kau merangkul bahuku dan kali ini kau menyandarkan kepalamu di
kepalaku. Saat ini ketika sangat dekat, aku perlahan menyamankan posisi
kepalaku yang bersandar dibahumu. Aku begitu nyaman, aku tidak ingin lepas. “Iya, itu udah jadi tugas gue,
sebagai sahabat lo”. Kau memang tipe lelaki yang sangat setia, sangat bodoh
wanita yang menyia-nyiakan kesetiaanmu itu, dan aku selalu belajar dari mereka.
Kalau saja Tuhan menakdirkan kau bisa melihatku yang menyanyangimu lebih dari
kata 'sahabat' itu, maka aku tidak akan menyia-nyiakanmu, aku ingin menjadi
wanita beruntung yang berada dihatimu selamanya. Tapi itu hanya khayalanku saja, kau
hanya melihatku sebagai seorang sahabat, yang selalu menjadi obat luka di
hatimu, ketika ada yang menyakitimu aku yang selalu berada di sana, akan
tinggal mengobati hingga lukamu itu sembuh. Tapi aku suka itu, aku suka jika
kita atau status ini cukup dengan kata sahabat yang tidak akan ada putusnya
dibandingkan pacaran yang selalu berakhir dengan kata putus. Aku menyayangimu lebih. Dan aku
tidak mau berhenti menyanyangimu. Aku selalu diam dan selalu berada di
sampingmu, selamanya.
0 komentar:
Posting Komentar