Senin, 30 Juni 2014

Ini Kewajiban, Bukan Ukuran Keimanan

0 komentar
Assalamualaikum..

Mumpung ramadhan, gue mau ngomong bener.

Jilbab, hijab, kerudung, semuanya udah sama kalau jaman sekarang. Anak kuliahan sih biasanya sebutnya "hijab", kalau ibu-ibu pengajian sebutnya "jilbab", lah kalau anak sd bilangnya "kerudung", ya intinya yang mau gue bahas itu loh yang jadi penutup kepala untuk cewek-cewek, ukhti-ukhti, atau muslimah-muslimah sekalian. (yang mau muntah, silahkan)

Sebenarnya sih SD gue udah mulai pakai jilbab, tapi gue mulai menghitung pas SMP aja deh. Soalnya pas SD gue masih seenak jidat kapan mau pakai kapan nggak, jadinya gue anggap SD itu bukan jaman gue pakai jilbab. Awalnya sih gue pakai jilbab karena mama yang nyuruh. Namanya juga masih kecil, ya gue nurut-nurut aja. Tapi lama kelamaan gue juga sadar sendiri kalau pakai jilbab itu emang kewajiban. Kewajiban ya, bukan ukuran keimanan.

Kamis, 26 Juni 2014

Taman Kanak-Kanak

0 komentar
Sekitar umur 5 tahun, gue udah dimasukin TK. Menurut gue, alasan gue masuk TK bukan karena gue disuruh untuk mulai belajar sedini mungkin, tapi karena nggak ada yang jagain gue di rumah kalau orang tua pada kerja dan kakak gue sekolah.

Ada yang masih ingat masa TK-nya?

Hari pertama, gue pakai dress selutut warna hijau dengan aksen orange di pinggirnya (waktu itu belum dibagikan baju seragam, iuh). Rambut gue teruraisoalnya rambut gue pendek nggak bisa diikat, pakai tas warna pink yang ada gambar barbie di depannya. Gue lagi pegang tangan mama yang nganterin gue masuk ke sekolah baru.

Jumat, 13 Juni 2014

Ayah

0 komentar
sumber gambar : http://inicecritaku.blogspot.com/
Langit mendung, membuat angin siang ini bertiup dingin. Saya sedang duduk di sebuah bangku panjang di serambi klinik sederhana ini, melihat langit yang sepertinya tidak lama lagi akan menurunkan hujan.

Di tempat ini saya sering menghabiskan waktu kosong, duduk di kursi tunggu apa adanya ini. Saat ini mata saya sedang melihat beberapa orang pengobral boneka-boneka lucu dipinggir jalan yang dijual murah, mereka sedang sibuk merapikan bonekanya ke dalam mobil box agar tidak terguyur hujan.

Pikiran saya tentang boneka-boneka itupun terhenti ketika saya sedikit kaget saat seorang pria parubaya duduk di samping saya sambil mengelap wajahnya dengan sapu tangan berwarna biru.

"Numpang duduk, neng." izin pria ini sambil tersenyum. Ternyata pria ini seorang kuli bangunan sebelah klinik tempat saya bekerja.

Saya membalas senyumannya, dan kembali melihat boneka-boneka tadi.

"Lucu-lucu ya bonekanya. Itu dijual, neng?" tanya pria itu seakan ia tahu apa yang saya pikirkan.

"Iya, pak." jawab saya.

"Wah, boneka cantik kok dijual di pinggir jalan, kan sayang.." lanjutnya.
 

Cerita Gado-Gado Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template